just sing me a song
just spell me those magic words
to bring me home
to rest in my nest
safely
a page to rediscover and nurture one of my passions, my dreams, my crescents.. and to share it with YOU
serupa tapi ngga sama
dia harus semakin besar, aku harus semakin kecil
tidak sama dengan:
aku harus semakin kecil, dia harus semakin besar
agak bingung juga waktu membacanya,
tapi ada sedikit penggambaran juga
yang paling penting dan bener:
dia harus semakin besar dan aku harus semakin kecil
karena memang begitu tertulisnya
kartini dan surat
satu hal yang membuatku merasa dekat dengan tokoh emansipasi wanita ini adalah: surat
yah, karena beliau dan aku sama-sama suka menulis surat :)
membaca surat-suratnya dalam buku habis gelap terbitlah terang, membawaku untuk coba memahami pemikiran, pergumulan dan kerinduan beliau
patut dikagumi bahwa dalam usia yang se’pantaran’ denganku—bahkan lebih muda- serentetan pemikiran yang ‘besar’ sudah muncul
maka akupun bertanya, “sudahkah aku mengoptimalkan apa yang ada dalam diriku ini untuk menjadi berkat buat orang lain dan diri sendiri, sebagai ucapan syukur?”
jawabku, “ masih jauh dari maksimal.”
karena itu, “berusahalah lebih giat dan tekun, supaya bisa menjadi surat terbuka bagi sesama yang membaca!”
“jembatan toleransi”
Dalam sebuah hubungan, baik antara dua orang atau lebih, nampaknya tidak mungkin bagi seseorang untuk menyenangkan semua pihak.
Beda kepala beda ide, beda keinginan, beda karakter, dsb.
Itulah pentingnya toleransi.
Boleh saja kita berusaha untuk tidak mengecewakan orang lain, namun mungkin saja satu kali kita gagal.
Itu sangatlah wajar, karena apa yang ada di luar kita berada di luar kendali kita juga.
Yang penting adalah melakukan yang terbaik yang kita bisa berdasarkan prinsip dan kepercayaan kita—nilai-nilai yang kita yakini.
Dan mengenai toleransi, kitapun perlu menerapkan prinsip, “mengasihi orang lain seperti diri sendiri.”
Artinya toleransi yang seimbang: baik toleransi terhadap orang lain, maupun toleransi terhadap diri sendiri.
Terlalu idealis? Terlalu utopis? Mungkin.
Tapi, bila kita bisa mengejarnya untuk sesuatu yang lebih baik, kenapa enggal?
Ketika orang lain mengecewakan kita,
Atau ketika orang lain merasa kecewa karena kita,
Itulah saat dimana toleransi perlu dibentangkan layaknya sebuah jembatan.
Cukupkah kita memiliki kebesaran hati untuk itu??
buat jaga-jaga
sedia payung sebelum hujan
sedia mantel juga boleh
intinya apa sih?
supaya nggak kehujanan
kalo hujannya lebat banget?
paling tidak,
nggak akan separah kalau kita nggak sediain payung atau mantel
jaga-jaga
biar resiko menjadi basah dan terkena flu bisa ditekan
jaga-jaga
hati itu juga mudah terkena “flu”
jadi sedia “payung” buat hatimu
payung itu bisa berarti hal-hal prinsip yang menjadi pegangan hidup
yang teguh tetap tak tergoyahkan
paling tidak,
sebisa mungkin menekan resiko
bisa beri contoh?